Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers
Lilypie - Personal pictureLilypie Kids Birthday tickers

Senin, 22 April 2013

Belanja Sambil Belajar di Depo Bangunan, Serpong


Minggu (21/4/2013) siang, Dad mengajak kami ke Depo Bangunan di Jalan Raya Serpong Km 2, Tangerang www.depobangunan.co.id

Ada beberapa keperluan yang berkaitan dengan pembangunan rumah kami. Sementara Dad memilih barang-barang, Aurelius & Keio berlarian ke sana kemari, ke kiri ke kanan, hahahaha. Mungkin ada benarnya kalau orang bilang membesarkan dua anak laki-laki yang tidak berbeda jauh umurnya, mereka punya energi yang besar sekali. 

Well, saya mengajak Aurelius dan Keio mengalihkan energi mereka menjadi pembelajaran. Pertama, saya membawa mereka ke outlet cat Dulux,  melihat tempat mixing cat sesuai permintaan pelanggan, mereka melihat bagaimana satu warna di campur sehingga menghasilkan warna yang diinginkan.

Setelah itu saya ajak mereka melihat display keramik. Saya pandu tangan Keio untuk merasakan masing-masing permukaan keramik.
“Beda, Mom..yang ini kasar yang ini halus”.
“Yang ini bentuknya bulat-bulat, yang ini panjang, Mom”

Terakhir, saya minta Keio untuk menunjukan semua benda yang berwarna hijau. Hijau adalah kesukaannya. Mulai dari genteng, sampai peralatan berkebun dengan semangat Keio menyebutkan satu persatu.

So, Dad bisa berbelanja dan mencari referensi perlengkapan pembangunan rumah dengan nyaman. 


Kamis, 04 April 2013

One, Two, Three, PUSH!

Malam tadi, saya dan pengasuh anak-anak memindahkan tempat tidur Aurelius. Ketika kami berusaha keras mendorong, saya tersadar Keio juga ikut membantu. Dan yang menggugah hati saya adalah dia mengeluarkan kalimat:

one, two, three, PUSH!
one, two, three, PUSH!

Sejenak saya berhenti dan memperhatikan Keio. Saya tersenyum dan memeluknya, sambil mengatakan "thank you for helping, Mom"

Tanpa terasa Aurelius dan Keio sudah bertambah usia nya, bukan lagi anak kecil yang lucu yang masih dalam genggaman saya. Mereka sudah punya dunianya sendiri. Aurelius sudah sibuk dengan tontonan TV nya, Keio sudah lebih dekat dengan lingkungan, terutama teman-teman sekolahnya.

Tapi ternyata, malam kemarin saya diingatkan bahwa, kelucuan anak-anak tetap terus dapat dinikmati selama kita orangtua mau lebih peka atas apa yang mereka lakukan. Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan dan perkembangan mereka secara tubuh, jiwa dan spiritual, tetapi ada hal-hal sederhana yang tetap mampu membuat kita sebagai orangtua, tersenyum melihat perilaku dan kelucuan mereka.

Peranan Orangtua dalam Mengembangkan Talenta Anak

Aurelius Frederic @Best Talents PENABUR 2013

Keio Emmanuel @Best Talents PENABUR 2013

Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda, dan setiap anak memiliki banyak kecerdasan (multiple intelligence). Oleh karena itu, orangtua harus dapat mengeksplorasi kecerdasan tiap tiap anak.
Kecerdasan yang berbeda dengan talenta yang berbeda. Orangtua berperan penting dalam mengembangkan talenta anak, sehingga si anak dapat memaksimalkan talenta yang dia miliki.
Hanya saja seringkali yang tidak disadari orangtua adalah mentransfer harapan atau impian yang tidak dapat diraih sebelumnya.

Sebut saja seorang teman saya yang berceritera pengalamannya sewaktu kecil. Bagaimana ayahnya memperlakukan begitu keras untuk mengikuti lomba-lomba menyanyi. Pada waktu dia menang, ayahnya merasa bangga. Tetapi bangga terhadap dirinya sendiri, bukan bangga pada prestasi anaknya. Begitu juga ketika kalah, ayahnya demikian kecewa. Sehingga akhirnya teman saya merasa bahwa dia tidak menjadi dirinya sendiri, tetapi seakan-akan ayahnya yang menginginkan kehidupan di dalam diri anaknya.

Satu hal yang perlu diingat oleh orang tua adalah, biarkan anak-anak menjadi dirinya sendiri dengan apa yang ada dalam dirinya. Tugas orangtua adalah memberikan stimuli, dan dorongan untuk memotivasi si anak.

Stimuli yang dilakukan misalnya dengan memberikan fasilitas les, atau membawa si anak melihat dunia hobinya melalui YouTube. Lalu dorongan yang diberikan adalah memberikan pujian dan semangat pada saat si anak menang lomba ataupun kalah. Mengikuti lomba dengan baik, sudah merupakan satu prestasi, bukan permasalahan menang atau kalah.

Quality time yang saya lakukan bersama Aurelius dan Keio seringkali dengan melihat tayangan-tayangan media sosial YouTube, seperti permainan piano, nyanyi, sehingga dia dapat melihat dan mempelajari. Yang lebih penting adalah menambah wawasannya.

Selasa, 05 Maret 2013

Mama Produktif

Saya masih ingat, beberapa bulan lalu saya menuliskan tentang pentingnya peranan humas sekolah, terkait dengan karir dan bidang konsentrasi pendidikan saya. Di tengah kesibukan bekerja, mengajar dan beberapa kegiatan lain, saya membuat beberapa tulisan untuk dapat dibagikan kepada pembaca terutama humas untuk jasa pendidikan.

Ada satu ungkapan, dunia tidak akan tahu pemikiran kita, sampai kita menuliskan pemikiran tersebut. Ini bukanlah tulisan saya pertama. Sedari duduk di sekolah dasar, saya sudah mulai diikutsertakan lomba mengarang, namun tentu saja belum berhasil, karena minimnya arahan. Tapi mungkin hobi itu sudah ada dalam diri saya. Ketika berada di jenjang sekolah menengah pertama, saya ada membuat beberapa cerpen di majalah sekolah. Dan di sekolah menengah atas, desain saya terpilih dimuat di buku tahunan. Sayangnya saya tidak mempunyai portfolionya, karena harus membeli buku tahunan, yang saat itu (1997) tergolong mahal harganya. Hingga saat ini, di pekerjaan yang saya tekuni, menulis menjadi makanan sehari-hari.

Menulis melalui blog, juga menjadi kesenangan pribadi dalam memberikan inspirasi bagi para mama yang bekerja di luar rumah. Mama yang aktif di keluarga, tetap harus produktif. Tidak hanya dalam kesibukan rutinitas, tetapi dengan manajemen waktu yang baik, maka dapat lebih produktif. Kata "sibuk, tidak ada waktu!", bukan menjadi satu toleransi untuk tidak lebih produktif.

Peranan Komunikasi Humas Sekolah melalui Media Sosial dalam Meningkatkan Hubungan dengan Konstituen

Profil BPK PENABUR Jakarta

Rabu, 23 Januari 2013

3 Hal Menyikapi Persaingan Kakak Adik

"Kalau, Koko? Kalau, Dede?"
Pertanyaan ini terkadang muncul jika ada satu anak (kakak atau adik) tidak mau melakukan satu hal sesuai keinginan orangtua. Misalnya, makanan tidak habis atau belum mengerjakan sesuatu.

"Ayo dong, habiskan makanannya. Kan, Koko anak pintar (anak baik)", pinta Mommy. Lalu biasanya disambut dengan sang adik "Kalau, Dede?".

Dan bagi orang tua, tanpa sadar biasanya menjawab " Iya, tuh Dede lebih pinter".
Tanpa sadar juga orang tua sudah berperan dalam membuat persaingan antara kakak dan adik menjadi lebih tajam.

Padahal sebenarnya antara kakak dan adik, ada rasa tanggung jawab, menghormati dan kebersamaan. Mungkin bagi beberapa orang persaingan dianggap positif, tapi kolaborasi akan lebih baik dibanding kompetisi. Sebagai keluarga, semua anggota adalah bagian dari satu kesatuan yang saling mendukung.

Ada beberapa hal bagi orangtua untuk menyikapi persaingan kakak adik:
1. tidak membandingkan bahkan melebihkan satu anak dengan yang lain dengan ucapan
2. memotivasi untuk kakak dan adik dapat memecahkan satu masalah bersama.
3. memberikan arahan, masukan atau bahkan teguran tidak di depan anak yang lain.